Sayang... mugkin sebelum kita menikah kamu sudah
mengetahui bahkan aku akan menjadi pendamping hidupmu, dan aku juga memilih
seorang yang mengerti untuk anak-anakku. Karna dalam keluarga tidak hanya ada
sepasang suami istrinya saja, tetapi juga akan ada dan akan hadir anak-anak
yang shaleh dan shaleha sebagai penerus
generasi. Dan kepada anak-anak kita akan memiliki harapan besar bahwa mereka
akan memilih kehidupan yang lebih baik dan lebih shaleh dari kita karena ini
menjadi kewajiban dan tanggung jawab memberikan pendidikan yang terbaik untuk
mereka sehinnga kita sebagai orang tua pun bisa memanen pahala terbesar. Penulis
berharap kepada kita semua calon orang tua dan yang sudah menjadi orang tua
agar melakukannya bersama-sama.
Sayang... mungkin kita sudah pernah membaca bahkan
belajar tentang berbagai teori pendidikan untuk anak, dan bahkan itu tidak
asing lagi bagi kita. Karena tori lahir dari pemikiran dan pengalaman serta
penelitian yang berbeda- beda, dan masing teori tersebut mempunyai sisi yang
berbeda pula, ada kekurang dan ada pula kelebihan dan kita yakin tidak semua
teori atau pun seratus persen menerapkan teori tersebut kepada anak kita.karena
setiap anak berbeda , dari orang tua yang berbeda, lahir berbeda dan di waktu
yang berbeda serta di lingkungan yang berbeda mereka di besarkan ...
Namun demikian sebagai seorang muslim ada dua pedoman
yang harus kita terapkan dalam mendidik anak-anak kita baik tentang ilmu
dunianya maupun ilmu agama islam yaitu nya Al Quran dan Hadits Rasulullah.
Wahai ayah dan ibu coba kita baca ayat ini :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan” (Tahrim:6)
Sayang ... ketika aku memilihmu sebagai ibu dari
anak-anak kita maka disaat itu dan seterunya kamu adalah seorang wanita yang
hadir yang selalu mengisi ruang hatiku. Dan ketika kita sudah memiliki
anak-anak aku berharap bahwa dirimu bisa menjadi ibu yang di idamkan bagi
anak-anak kita
Ada beberapa hal yang harus
penulis sampaikan kepada penulis sendiri dan kita semua sebagai orang tua dan
bahkan calon orang tua penulis berharap jangan tingan kan beberapa tips yang
bisa kita lakukan dimana pun kita berada insyaallah ini sangat beguna bagi
kita.
Pertama : Kelembutan
Di antara tabiat anak-anak adalah
mereka mencintai orang tua yang lemah lembut kepada mereka, membantu mereka,
dan yang perhatian kepada mereka, sebisa mungkin tanpa teriak dan amarah;
bahkan dengan penuh hikmah dan kesabaran. Anak usia dini membutuhkan hiburan
dan permainan; sebagaimana juga usia dini adalah usia yang tepat untuk
menanamkan adab-adab dan pendidikan yang baik. Oleh karena itu, orang tua harus
mampu menyeimbangkan antara keduanya.Saat anak-anak mencintai orang tua yang
penuh kelembutan, maka cintanya ini akan memotivasi mereka dengan kuat untuk
menaati orang tuanya. Sebaliknya, tidak adanya kelembutan pada orang tua,
bahkan adanya kekerasan, akan menyebabkan anak menjauh, yang pada gilirannya
akan menyebabkan keras kepala dan ketidaktaatan, atau menyebabkan ketakutan yang
akan menumbuhkan sifat dusta dan tipu daya pada diri anak kepada orang tua.
Kelembutan tidak berarti
meniadakan hukuman pada saat diperlukan.Namun, perlu dicatat bahwa hukuman,
ketika membesarkan anak-anak, harus digunakan secara bijak. Tidak benar jika
anak selalu dihukum untuk setiap pelanggaran yang dilakukan. Hukuman diterapkan
saat kelembutan tidak lagi berpengaruh, dan ketika nasehat, perintah dan
larangan telah diabaikan.Kemudian, hukuman juga harus memberikan manfaat.
Misalnya, Anda memiliki masalah pada kebiasaan anak-anak Anda menghabiskan
waktu yang lama di depan televisi, maka Anda dapat membatasi program yang
mereka tonton, yakni yang bermanfaat dan tidak membahayakan secara umum, dan
bebas dari perkara mungkar sebisa mungkin. Jika mereka melampaui waktu tonton
yang telah ditentukan, Anda dapat menghukum mereka dengan melarang mereka
menonton televisi selama satu hari penuh. Suatu ketika mereka melanggar lagi,
maka Anda dapat melarang mereka dari menonton televisi untuk jangka waktu yang
lebih lama, sesuai dengan tujuan kebaikan yang hendak digapai dan manfaat dalam
pendidikan adab dan budi pekerti.
Kedua: Memberikan contoh yang
baik
Orang tua harus memiliki akhlaq
yang baik terlebih dahulu, sebelum mengajari anaknya berakhlaq baik. Sebagai
contoh, tidak tepat jika seorang ayah melarang anaknya merokok padahal dia
sendiri merokok.Salah seorang ulama mengatakan kepada guru anak-anaknya, “Hal
pertama yang harus Anda lakukan untuk mendidik keshalihan anak-anak saya adalah
membuat diri Anda sendiri menjadi shalih. Karena kesalahan mereka adalah bentuk
mencontoh dari kesalahan Anda; Hanya perbuatan baik saja yang harus Anda
lakukan dan tinggalkanlah perbuatan yang jelek di hadapan mereka” (Tariikh
Dimasyq, 38 / 271-272).
Ketiga: Menerapkan lingkungan
yang baik.
Lingkungan yang baik adalah
lingkungan di mana perbuatan baik dipuji dan pelakunya dimuliakan, sedangkan
perbuatan buruk dan pelakunya dicela. Saat ini, lingkungan seperti ini sangat
jarang kita temui. Namun, dengan usaha keras dan sungguh-sungguh secara fisik,
psikologis dan finansial, insyaAllah kita mampu untuk membuatnya .
Keempat :Jangan berbohong kepada anak
Ada masanya
seorang anak akan rewel dan bahkan menangis. Kita tak mungkin membiarkan anak
kita menangis berlama-lama. Kasihan. Kita pasti akan mencari cara untuk
menghentikan tangisan anak kita atau menenangkannya. Semua cara patut
dicoba.Namun jangan pernah kita memilih cara dengan berbohong kepada anak.
Jangan pernah kita menjanjikan sesuatu kepada anak sementara kita tidak bersungguh-sungguh
mewujudkannya.
Kamu pasti
sudah tahu bahwa bohong atau dusta tidak dibolehkan dalam agama kita baik
serius atau main-main. Karenanya sangatlah tidak terpuji jika ada orang tua
menjanjikan sesuatu kepada anaknya lalu tidak menepatinya. Jika demikian yang
terjadi, niscaya, di dalam jiwa sang anak tumbuh benih-benih rasa benci dan
kurang hormat di dalam diri sang anak kepada orang tua yang demikian. Bahkan
besar kemungkinan sang anak akan meniru untuk berbohong di lain masa.
Tentu saja,
kita tak menginginkan anak-anak kita tumbuh dengan rasa benci kepada kedua
orang tuanya, kita, dan menjadi anak pembohong. Karenanya jangan sampai kita
berbohong kepada anak-anak kita.
Kelima : Jangan membentak atau berkata
keras kepada anak.
Wahai ayah dan ibu dan dari anak-anak kalian, penulis meyakini bahwa kamu sudah mengetahui kisah ini “Sesungguhnya baju yang kotor ini bisa dicuci dan
dihilangkan kotorannya, namun siapa yang bisa menghilangkan kekeruhan jiwa
seorang anak atas bentakan dan renggutan yang kasar yang telah dilakukan
kepadanya.”
Karenanya,
jangan pernah kita membentak atau berkata-kata dengan kasar atau dengan nada
keras kepada anak-anak kita. Sebab atas dasar tersebut dan penelitian para ilmuwan, sebuah
bentakan atau kata kasar yang diucapkan kepada seorang anak akan menghancurkan
1 milyar sel otak sang anak. Jika bentakkan atau kasar sering diucapkan, maka
akan semakin banyak sel otak yang dimiliki sang anak akan hancur.
Ayah dan ibu , kita tak menginginkan hal itu terjadi pada otak
anak-anak kita. Karenanya, jangan pernah kita membentak atau berkata kasar
kepad anak-anak kita. Tanpa bentakan dan kata-kata kasar atau bernada keras,
insya Allah tumbuh kembang kecerdasan anak-anak kita akan lebih baik.
Keenam : Ciumlah dan peluklah.
Ayah dan ibu , bukan
bentakan dan kata-kata kasar atau bernada keras yang kita berikan kepada
anak-anak kita, tetapi yang harus kita berkan adalah ciuman, pelukan, belaian,
pujian, dan ungkapan sayang. Jika semua itu kita berikan, maka sel-sel otak
anak-anak kiita akan terangkai menjadi indah. Dan itu hal yang baik untuk
tumbuh kembang kecerdasan mereka.
Ketujuh: Jadilah teman anak-anak kita.
Sayang,
sebagai orang tua, kita adalah orang yang paling dekat dengan anak-anak kita.
Terlebih lagi dirimu. Sebelum anak-anak kita mengenal siapa ayahnya, mereka
sudah lebih dahulu mengenal dan berkomunikasi dengan dirimu. Karenanya
kuberharap, ketika anak-anak kita tumbuh kamu tetap bisa membersama mereka.
Waktu
mereka paling banyak adalah bersama ibunya.
Bukan bersama ayahnya. Sebagai seorang
ibu, kamu adalah orang yang pertama kali mengetahui tentang kemampuan baru
setiap anak kita sebelum aku dan orang lain mengetahuinya. Satu hal terbaik
yang mungkin bisa kita lakukan ketika menemani anak-anak kita di masa
pertumbuhannya adalah bertingkah laku seperti mereka. Dengan begitu, ikatan
hati dan jalinan rasa akan lebih kuat di antara kita dan anak-anak iita. Mungkin
itu adalah bentuk nyata dari sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa,
“Barangsiapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia turut berlaku kekanak-kanakkan
kepadanya.”terimakasih telah membaca artikel ini ayah dan ibu beginilah caranya
